Pantai pangumbahan sebuah pantai yang sangat menawan karena memiliki hamparan pasir putih yang halus dan lembut, Selain itu juga saya melihat pemandangan di sekitar yang bagus dan masih alami yang belum tercemari oleh industri. Dan saya juga dapat menikmati sejuknya hembusan angin pantai, memandangi ombak yang menerpa hamparan pasir putih yang halus dan lembut, hal ini yang dapat membuat sejumlah penyu hijau dapat mendatangi pantai pangumbahan yang memiliki pasir putih yang halus dan lembut, untuk proses bertelur.
Pantai pangumbahan merupakan tempat konservasi penyu hijua (Chelonia mydas), panjang pantai pangumbahan sekitar 2,3 km. Lokasi pantai pangumbahan berada di Desa. Gunung batu, Kecamatan. Ciracap, Kabupaten. Sukabumi. Pantai pangumbahan tidak jauh dari pantai ujung genteng, dari pantai ujung genteng sekitar 5 kilometer kearah barat. Akses jalan dari pantai ujung genteng ke pantai pangumbahan cukup jauh dan jalannyapun rusak, dari pantai ujung genteng ke pantai pangumbahan nyusur pantai jika jalan kaki memakan waktu sekitar 30 menit sedangkan naik kendaraan 10 menit.
Di pantai pangumbahan jenis penyu yang sering di temui adalah penyu hijau (Chelonia mydas). Jenis lainnya seperti penyu belimbing dan penyu sisik sudah mulai jarang di temu. Penyu hijau dewasa bisa mencapai panjang 1,5 meter dengan berat sampai 300 kg dan sekali bertelur induk penyu bisa menghasilkan 80-200 butir telur. Proses bertelurnya penyu selalu terjadi pada malam hari, sekitar jam 23.00 s/d 04.00 WIB.

Pelepasan tukik (anak penyu)

Tukik yang di lepaskan pada habitat aslinya melewati berbagai rintangan salah satu rintangannya adalah melewati gelombang yang sangat tinggi. Terus jika tukik sudah mulai memasuki keperairan atau kedalam lautan lepas melewati hewan predator. Pelepasan tukik biasa di lakukan pada sore hari sekitar jam 16.30. Tukik yang dilepaskan pada habitat aslinya berumur 60 hari. Melihat tukik yang jalan kelautan sangat lucu sekali menggemaskan …

Menyaksikan dan proses penyu bertelur

Jika anda ingin langsung dapat menyaksikan seekor induk penyu bertelur, sebaiknya anda mempersiapkan diri dengan perlengkapan-perlengkapan tambahan: jacket untuk kegiatan di malam hari dengan menahan terpaan angin laut, botol minum dan makanan kecil untuk minum dan cemilan karena selama di lokasi anda tidak akan menemukan warung yang buka pada tengah malam, karena proses ini membutuhkan waktu 2 jam.
Musim bertelurnya induk penyu pada bulan Agustus hingga bulan Maret, pantai pangumbahan setiap malam semarak dengan datangannya belasan sampai puluhan induk penyu secara beramai-ramai. Walaupun terkadang datangnya satu persatu, penyu hendak mengadakan prosesi bertelur secara massal.
Pusat Penangkaran Penyu yang kini telah dikelola oleh Pemerintah Daerah setempat, pemerintah daerah setempat telah menyediakan pos menunggu untuk pengamatan yang disiapkan bagi para pengunjung. Dari pos berkumpul, anda akan dibawa langsung oleh seorang petugas menuju tempat prosenya induk penyu bertelur, namun itu juga harus ada kode dari petugas lainnya. Harus disadari bahwa Penyu akan kaget dan takut jika melihat sinar di Pantai. Kita di perbolehkan mendekat jika induk penyu tersebut sudah menggali lubang dan memulai proses mengeluarkan telurnya. Kalo sudah dalam posisi demikian, Induk Penyu tidak akan menghiraukan lagi dengan situasi di sekelilingnya dan melanjutkan bertelur hingga tuntas.
Proses penyu bertelur ini bisa memakan waktu 2 jam khususnya, jika kita mau bersabar hingga menyaksikan induk penyu kembali lagi ke laut lepas. Rata-rata induk penyu sekali bertelur sebanyaknya sekitar 80 – 200 butir, dimulai dari usia 20 – 100 tahun. Ketika penyu mengubur telur-telurnya, kedua sirip depannya mengibaskan pasir dan mengarahkan ke bagian belakang, membuat gundukan kecil diatas lobang, sedangkan bagian sirip kakinya nampak melakukan gerakan-gerakan memadatkan tanah.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam prosesnya penyu bertelur:

1. Dilarang menyalakan lampu di dekat penyu
2. Jangan membuat atau membunyikan suara
3. Jangan membuatan api ataun cahaya yang berlebihan
4. Jangan mendekati seekor penyu yang baru datang dari laut, dia akan gampang takut.
5. Menghindari pemakaian senter jangan pernah mengarah langsung ke penyu.

Ruang penetasan telur

Telur yang semalam di kubur oleh induk penyu itu diambil oleh petugas untuk di masukan kedalam ruang penetasan. Dan telur itu di pisahkan atau di kuburnya satu persatu oleh petugas. Menurut informasi yang saya dapat dari petugas, telur penyu yang telah di masukan kedalam ruang penetasan biasanya dari sekian banyak telur yang ada dalam ruangan tersebut hanya 50% yang dapat menetas, menetasnya telur penyu kurang lebih 40 hari. Setelah telur penyu menetas tunggu sampai usianya 60, baru tukik (anak penyu) dilepaskan ke lautan lepas (kehabitat aslinya).

sebelumnya telah di jelaskan tentang: Energi, Habitat, Relung dan Adaptasi dalam http://ayolid.blogspot.com/

Untuk melengkapi bahasan tersebut mengenai apa saja yang mempengaruhi dalam suatu ekosistem terhadap makhluk hidup.
yuuuu marrrrrriiiiiiii

Evolusi Terumbu Karang
Menurut Darwin, evolusi terumbu karang disebabkan oleh gerakan tektonik dari bumi. Dia mengusulkan bahwa evolusi terumbu karang terjadi dari fringing reefs lalu barrier reefs dan akhirnya karang atol yang terbentuk karena rangkaian evolusi. Seperti pada pulau volkanik yang lambat laun tenggelam karena gerakan tektonik pulau tersebut dan pada saat yang sama fringing reefs tumbuh di tepi pantai pulau. Karena proses tektonik yang terus berlajut yang menyebabkan pulau terus tenggelam dan posisi karang terus tumbuh walau substrat tempat dia tumbuh terus tenggelam sehingga membentuk suatu barrier reefs. Ketika pulau seluruhnya tenggelam, posisi barier reefs tetap sama (tepi pantai), karena pulaunya tenggelam bagian tengah menjadi terisis air laut dan membentuk lagoon dengan karang atolls disekitarnya.
Menurut Daly , evolusi pada terumbu karang terjadi karena perubahan ketinggian permukaan air laut yang disebabkan oleh pergerakan bumi yang semakin dekat dengan matahari dan iklim yang menghangat. Proses evolusi yang terjadi yaitu mulai dari terumbu karang tepi, karena permukaan air yang meningkat dan karang yang terus berusaha tumbuh pada kedalaman yang optimum bagi pertumbuhannya maka karang tersebut terus tumbuh sehingga tetap pada kedalaman yang optimum lalu membentuk barrier reeefs. Namun ketika permukaan air laut yang terus meningkat hingga menenggelamkan pulau tempat terumbu karang berada dan pertumbuhan karang yang terus terjadi maka terumbu karang tersebut akan menjadi terumbu karang atol.

Suksesi Primer dan Suksesi Sekunder
Suksesi merupakan adanya modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis). Di alam ini terdapat dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.

• Suksesi Primer
Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal terbentuk habitat baru. Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan Lumpur yang baru di muara sungai, dan endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan manusia misalnya penambangan timah, batubara, dan minyak bumi.
Contoh yang terdapat di Indonesia adalah terbentuknya suksesi di Gunung Krakatau yang pernah meletus pada tahun 1883. Di daerah bekas letusan gunung Krakatau mula-mula muncul pioner berupa lumut kerak (liken) serta tumbuhan lumut yang tahan terhadap penyinaran matahari dan kekeringan. Tumbuhan perintis itu mulai mengadakan pelapukan pada daerah permukaan lahan, sehingga terbentuk tanah sederhana. Bila tumbuhan perintis mati maka akan mengundang datangnya pengurai. Zat yang terbentuk karma aktivitas penguraian bercampur dengan hasil pelapukan lahan membentuk tanah yang lebih kompleks susunannya. Dengan adanya tanah ini, biji yang datang dari luar daerah dapat tumbuh dengan subur. Kemudian rumput yang tahan kekeringan tumbuh. Bersamaan dengan itu tumbuhan herba pun tumbuh menggantikan tanaman pioner dengan menaunginya. Kondisi demikian tidak menjadikan pioner subur tapi sebaliknya.
Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terns mengadakan pelapukan lahan.Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal. Kemudian semak tumbuh. Tumbuhan semak menaungi rumput dan belukar maka terjadilah kompetisi. Lama kelamaan semak menjadi dominan kemudian pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga terbentuklah hutan. Saat itulah ekosistem disebut mencapai kesetimbangan atau dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi sangat kecil sehingga tidak banyak mengubah ekosistem itu.
• Suksesi Sekunder
Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas mengalami gangguan, balk secara alami maupun buatan. Gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada. Contohnya, gangguan alami misalnya banjir, gelombang taut, kebakaran, angin kencang, dan gangguan buatan seperti penebangan hutan dan pembakaran padang rumput dengan sengaja.
Contoh komunitas yang menimbulkan suksesi di Indonesia antara lain tegalan-tegalan, padang alang-alang, belukar bekas ladang, dan kebun karet yang ditinggalkan tak terurus.

faktor pembatas terumbu karang
faktor-faktor fisik-kimia yang dapat mempengaruhi laju kehidupan atau pertumbuhan karang, (Sorokin, 1993). Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan atau pertubuhan karang diantaranya adalah suhu, salinitas, kedalaman, cahaya matahari, kekeruhan, substrat, arus dan gelombang. Berikut penjelasan beberapa faktor lingkungan pembatas kehidupan karang:
• Suhu
Suhu mempengaruhi kecepatan metabolisme, reproduksi dan perombakan bentuk luar dari karang. Suhu paling baik untuk pertumbuhan karang berkisar 23-30oC. Temperatur dibawah 18oC dapat menghambat pertumbuhan karangbahkan dapat mengakibatkan kematian. temperatur diatas 33oC dapat menyebabkan gejala pemutihan (bleaching), yaitu keluarnya zooxanthella dari polip karang dan akibat selanjutnya dapat mematikan karang (Sorokin, 1993).
• Cahaya dan kedalaman
Kedua faktor tersebut berperan penting untuk kelangsungan proses fotosintesis oleh zooxantellae yang terdapat di jaringan karang. Terumbu yang dibangun karang hermatipik dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan.
• Salinitas
Secara fisiologis, salinitas mempengaruhi kehidupan hewan karang karena adanya tekanan osmosis pada jaringan hidup. Salinitas optimal bagi kehidupan karang berkisar 30-35 o/oo. Karena itu karang jarang ditemukan hidup di daerah muara sungai besar, bercurah hujan tinggi atau perairan dengan salinitas yang tinggi.
• Kekeruhan
Kekeruhan yang tinggi menyebabkan terhambatnya cahaya matahari masuk kedalam air dan selain mengganggu proses fotosintesis zooxanthella juga mengganggu polip karang dngan semakin banyaknya mucus yang dikeluarkan untuk melepaskan partikel yang jatuh di tubuh karang. Sedimentasi yang tinggi dapat menutupi dan akhirnya akan mematikan polip karang.
• Substrat
Substrat yang keras dan bersih dari lumpur diperlukan untuk perlekatan larva karang (planula) yang akan membentuk koloni baru. Substrat keras ini berupa benda padat yang ada di dasar laut, misalnya batu, cangkang mollusca, potongan kayu bahkan besi yang terbenam.

• Arus
Faktor arus dapat berdampak baik atau buruk. Bersifat positif apabila membawa nutrien dan bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan bersifat negatif apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.
• Gelombang
Gelombang merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami. Namun demikian, umumnya terumbu karang lebih berkembang di daerah yang memiliki gelombang besar. Aksi gelombang juga dapat memberikan pasokan air segar, oksigen, plankton, dan membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni atau polip karang.

Evolusi Terumbu Karang

Posted: April 5, 2011 in Uncategorized

Menurut Darwin, evolusi terumbu karang disebabkan oleh gerakan tektonik dari bumi. Dia mengusulkan bahwa evolusi terumbu karang terjadi dari fringing reefs lalu barrier reefs dan akhirnya karang atol yang terbentuk karena rangkaian evolusi. Seperti pada pulau volkanik yang lambat laun tenggelam karena gerakan tektonik pulau tersebut dan pada saat yang sama fringing reefs tumbuh di tepi pantai pulau. Karena proses tektonik yang terus berlajut yang menyebabkan pulau terus tenggelam dan posisi karang terus tumbuh walau substrat tempat dia tumbuh terus tenggelam sehingga membentuk suatu barrier reefs. Ketika pulau seluruhnya tenggelam, posisi barier reefs tetap sama (tepi pantai), karena pulaunya tenggelam bagian tengah menjadi terisis air laut dan membentuk lagoon dengan karang atolls disekitarnya.
Menurut Daly , evolusi pada terumbu karang terjadi karena perubahan ketinggian permukaan air laut yang disebabkan oleh pergerakan bumi yang semakin dekat dengan matahari dan iklim yang menghangat. Proses evolusi yang terjadi yaitu mulai dari terumbu karang tepi, karena permukaan air yang meningkat dan karang yang terus berusaha tumbuh pada kedalaman yang optimum bagi pertumbuhannya maka karang tersebut terus tumbuh sehingga tetap pada kedalaman yang optimum lalu membentuk barrier reeefs. Namun ketika permukaan air laut yang terus meningkat hingga menenggelamkan pulau tempat terumbu karang berada dan pertumbuhan karang yang terus terjadi maka terumbu karang tersebut akan menjadi terumbu karang atol.

sumber:
fdcipb.wordpress.com

faktor-faktor fisik-kimia yang dapat mempengaruhi laju kehidupan atau pertumbuhan karang, (Sorokin, 1993).
beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kehidupan atau pertubuhan karang diantaranya adalah suhu, salinitas, kedalaman, cahaya matahari, kekeruhan, substrat, arus dan gelombang. Berikut penjelasan beberapa faktor lingkungan pembatas kehidupan karang:

Suhu
Suhu mempengaruhi kecepatan metabolisme, reproduksi dan perombakan bentuk luar dari karang. Suhu paling baik untuk pertumbuhan karang berkisar 23-30oC. Temperatur dibawah 18oC dapat menghambat pertumbuhan karangbahkan dapat mengakibatkan kematian. temperatur diatas 33oC dapat menyebabkan gejala pemutihan (bleaching), yaitu keluarnya zooxanthella dari polip karang dan akibat selanjutnya dapat mematikan karang (Sorokin, 1993).

Cahaya dan kedalaman
Kedua faktor tersebut berperan penting untuk kelangsungan proses fotosintesis oleh zooxantellae yang terdapat di jaringan karang. Terumbu yang dibangun karang hermatipik dapat hidup di perairan dengan kedalaman maksimal 50-70 meter, dan umumnya berkembang di kedalaman 25 meter atau kurang. Titik kompensasi untuk karang hermatipik berkembang menjadi terumbu adalah pada kedalaman dengan intensitas cahaya 15-20% dari intensitas di permukaan.

Salinitas
Secara fisiologis, salinitas mempengaruhi kehidupan hewan karang karena adanya tekanan osmosis pada jaringan hidup. Salinitas optimal bagi kehidupan karang berkisar 30-35 o/oo. Karena itu karang jarang ditemukan hidup di daerah muara sungai besar, bercurah hujan tinggi atau perairan dengan salinitas yang tinggi.

Kekeruhan
Kekeruhan yang tinggi menyebabkan terhambatnya cahaya matahari masuk kedalam air dan selain mengganggu proses fotosintesis zooxanthella juga mengganggu polip karang dngan semakin banyaknya mucus yang dikeluarkan untuk melepaskan partikel yang jatuh di tubuh karang. Sedimentasi yang tinggi dapat menutupi dan akhirnya akan mematikan polip karang.

Substrat
Substrat yang keras dan bersih dari lumpur diperlukan untuk perlekatan larva karang (planula) yang akan membentuk koloni baru. Substrat keras ini berupa benda padat yang ada di dasar laut, misalnya batu, cangkang mollusca, potongan kayu bahkan besi yang terbenam.

Arus
Faktor arus dapat berdampak baik atau buruk. Bersifat positif apabila membawa nutrien dan bahan-bahan organik yang diperlukan oleh karang dan zooxanthellae, sedangkan bersifat negatif apabila menyebabkan sedimentasi di perairan terumbu karang dan menutupi permukaan karang sehingga berakibat pada kematian karang.

Gelombang
Gelombang merupakan faktor pembatas karena gelombang yang terlalu besar dapat merusak struktur terumbu karang, contohnya gelombang tsunami. Namun demikian, umumnya terumbu karang lebih berkembang di daerah yang memiliki gelombang besar. Aksi gelombang juga dapat memberikan pasokan air segar, oksigen, plankton, dan membantu menghalangi terjadinya pengendapan pada koloni atau polip karang.

Sebelum kita membahas tekanan sedimentasi dapat menyebabkan terumbu karang mati, apa itu sedimen dan itu apa terumbu karang.?

Apa itu sedimen?

Sedimentasi adalah proses pemisahan padatan yang terkandung dalam limbah cair oleh gaya gravitsai, pada umumnya proses Sedimentasi dilakukan setelah proses koagulasi dan flokulasi dimana tujuannya adalah untuk memperbesar partikel padatan sehingga menjadi lebih berat dan dapat tenggelam dalam waktu lebih singkat. Terdapat empat type tekanan sedimentasi yaitu: smothering, abrasion, shading, inhibition of recruitment.

Apa itu terumbu karang ?

Terumbu karang adalah ekosistem dasar laut yang di bangun oleh hewan invertebrate dan zooxhantellae menghasilkan zat kapur.

Terbentuknya terumbu karang

Pembentukan terumbu karang merupakan proses yang lama dan kompleks. Berkaitan dengan pembentukan terumbu, karang terbagi atas dua kelompok yaitu hermatifik dan ahermatifik, hermatifik adalah karang yang dapat membentuk terumbu sedangkan ahermatifik tidak dapat membentu terumbu. Kelompok pertama dalam prosesnya bersimbiosis dengan zooxhantellae dan membutuhkan sinar matahari untuk membentuk bangunan dari kapur sehingga di kenal non-reef building corals yang secara normal hidupnya tidak bergantung pada sinar matahari (Veron, 1986).

Pembentukan terubu karang hermatifik dimulai adanya individu karang (polip) yang dapat hidup berkelompok (koloni) ataupun menyendiri (soliter). Karang yang hidup berkoloni membangun rangka kapur dengan berbagai bentuk, sedangkan karang yang hidup sendiri hanya membangun satu bentuk rangka kapur. Gabungan dari beberapa bentuk rangka kapur tersebut disebut terumbu.

Untuk mencapai pertumbuhan maksimum, terumbu karang memerlukan:

  1. perairan yang jernih
  2. suhu perairan yang hangat
  3. sirkulasi air yang lancer
  4. terhindar dari proses sedimentasi

Gangguan terhadap pertumbuhan terumbu karang:

  1. Gangguan alami
  2. Gangguan manusia

Beberapa faktor penyebab kerusakan ekosistem terumbu karang secara tidaklangsung yang berasal dari aktifitas manusia adalah

  1. Sedimentasi
  2. limbah industri dan rumah tangga
  3. limbah air panas
  4. limbah hydrocarbon, pestisida dan herbisida
  5. limbah radio akti

Kenapa tekanan sedimentasi dapat menyebabkan terumbu karang mati?

Terumbu karang merupakan tumbuhan yang memiliki banyak kegunaan dan kelebihan, namun terumbu karang merupakan ekosistem yang rapuh dan mudah rusak akibat tekanan dari sedimen baik secara langsung atau tidak langsung. Tekanan sedimentasi pada ekosisitem terumbu karang dapat menyebabkan kematian terumbu karang, karena sedimen, baik di dalam air maupun di atas karang, mempunyai pengaruh negatif  terhadap karang. Kebanyakan karang hernatifik karena tidak dapat bertahan dengan adanya sedimen yang berat, yang menutupi dan menyumbat struktur pemberian makanannya. Spesies karang hermatifik dapat bervariasi dalam hal ketahannya terhadap adanya sedimen; ada beberapa yang dapat tahan terhadap laju pengendapan yang tinggi, dan ini di temukan sebagai koloni yang terisolasi di daerah sedimentasi. kandungan sedimentasi pada kolom perairan dapat mengurangi intensitas cahaya matahari yang masuk ke perairan pengendapan kapur. Pengendapan ini dapat berasal dari penebangan pohon yang dapat mengekibatkan pengikisan tanah (erosi)  yang akan terbawa kelaut dan menutupi karang sehingga menyebabkan menghentikan pertumbuhan pada ekosisitem terumbu karang karena sinar matahari tertutup oleh sedimen. Akibatnya akan mempengaruhi pola zonasi alami karang. Namun sedimentasi juga dapat menginvasi daerah karang karena planula dan hewan karang butuh hidups di subtrat yang keras, namun jika itu jerjadi pada waktu yang lama akan mengakibatkan kematian terumbu karang. Yang sering dihubungkan dengan aliran air tawar adalah sedimentasi. Sedimen dalam air juga mempunyai akibat yang negative, yaitu mengurangi cahaya yang di butuhkan untuk fotosintesis oleh zooxantellae dalam jaringan karang. Akibatnya, dapat menyebabkan berkurang perkembangan terumbu karang dari wilayah-wilayah yang sedimentasinya tinggi. Jika sedimen ini di angkut oleh sungai-sungai, gabungan dari menurunnya salinitas dan sedimen yang berlebihan merupakan tidak tumbuhnya terumbu karang.

Pengaruh tekanan sedimentasi terhadap pertumbuhan karang dapat terjadi secara langsung maupun tidak langsung, tekanan sedimen dapat langsung memetikan terumbu karang, jika ukuran sedimennya itu cukup besar atau banyak sehingga menutupi polyp (mulut) karang. Pengaruh tidak langsung adalah melalui penetrasi cahaya dan banyaknya energy yangdi keluarkan oleh binatang karang untuk menghalau sedimen tersebut, yang mengakibatkan menurunnya laju pertumbuhan terumbu karang. Pertumbuhan karang, seperti di Pantai Bandengan, Jepara, Jawa Tengah, lambat pada musim hujan karena banyaknya sedimen. Sebaliknya cepat pada musim kemarau. Sebagai contoh, pertumbuhan acropora aspera hanya sekitar 1-2 mm/bulan pada musim hujan, sedangkan pada musim kemarau mencapai > 10 mm/bulan. Demikian pula pada keanekaragaman dan tutupan karang hidup (living coral cover) pertumbuhannya cenderung rendah pada perairan yang sedmentasinya tinggi. Perairan karang di Puerto Rico yang sedimentasinya tinggi (antara 3,0-15 mg/cm2/hari), keanekaragaman dan tutupan karang hidupnya relative rendah.

Kematian pada karang dapat terjadi karena kondisi lingkungan dengan pengaruh tekanan sedimentasi tidak sesuai lagi dengan lingkungan yang cocok bagi algae Zooxanthellae yang hidup pada karang, sehingga algae Zooxanthellae akan meninggalkan karang sehingga terjadi pemutihan pada karang. Bila kondisi perairan tidak sesuai dengan kebutuhannya maka alga tersebut akan mencari habitat perairan yang cocok baginya, sehingga pemasukan oksigen bagi karang akan terhenti, hal ini pada umumnya menyebabkan kematian pada karang.

Sumber:

http://fdcipb.wordpress.com/2010/05/26/dampak-ekosistem-terumbu-karang-akibat-dari-tekanan-sedimentasi/

M. Ghufran H. K.K. 2010. “Ekosistem terumbu karang “

http://www.scribd.com/doc/47722048/Tugas-Sedimntasi-Terhdap-Ekosistm-Karang

Hello world!

Posted: Maret 13, 2011 in Uncategorized

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!